Home SUCCESS STORY COACH BAMS ‘SYIRKAHPRENEUR’, SUKSES BISNIS BERJAMAAH TANPA HUTANG DAN RIBA

COACH BAMS ‘SYIRKAHPRENEUR’, SUKSES BISNIS BERJAMAAH TANPA HUTANG DAN RIBA

27 min read
0
2
889

Teks: Telson Hardani           Foto: Istimewa

MAJALAH SUKSES. Ini cerita nyata! “Mindset membangun usaha harus dengan modal uang, harus dengan hutang dan harus melibatkan perbankan seolah – olah menjadi hal umum yang di alami oleh sebagian besar pengusaha kita, termasuk saya” kata Bambang Setyawan mengawali obrolan dengan berapi-api.

Apalagi menurutnya, kebetulan orang tuanya memang hidup penuh keterbatasan, sejengkal tanah pun tidak punya. Tapi itulah yang membuatnya termotivasi harus menjadi orang sukses karena merasa tidak nyaman hidup penuh dengan keterbatasan.

Menjadi pengusaha bukanlah sebuah cita – cita atau sesuatu yang di rencanakan awalnya, karena hanya berfikir sederhana. Ingin segera punya uang, ingin segera sukses sehingga diputuskan untuk bersekolah di SMK.

“Alhamdulillah saya di terima di SMK negeri dengan nilai kelulusan yang cukup memuaskan”. Kenang pria kelahiran 12 Oktober 1979 yang akrab disapa Coach Bams itu.

Hikmah Gagal Jadi Karyawan

Singkat cerita, beberapa tes pekerjaan di perusahaan-perusahaan bonafit dari Cilacap ke Jakarta diikutinya. Hasilnya selalu mentok di persyaratan tinggi badan, hingga tak ada satu pun perusahaan yang menerimanya.

Menjadi pengusaha berawal dari sebuah ketidak sengajaan walaupun tidak ada istilah ketidak sengajaan bagi Allah, karena kita meyakini tidak ada sehelai daun jatuhpun melainkan karena kehendak ALLAH.

“Waktu itu setelah mengikuti proses test, saya membeli sebuah celana jeans di pinggir jalan di dekat stasiun senen seharga 35 ribu, begitu sampai rumah di paksa mau di beli sama saudara senilai 50 ribu. Dari situlah kemudian mulai berfikir, ini saya beli eceran aja bisa untung, gimana kalau saya beli di grosiran ya?”

Akhirnya Ia memutuskan untuk jualan celana jeans, modal didapatkan dari meminjam ke teman baiknya senilai 1 juta. Lalu kulakan celana jeans di pusat grosir pakaian di Tanah Abang. Jualan celana jeans dengan berkeliling pakai sepeda. Keluarga, saudara, tetangga ditawarinya.

Bisnis berjalan dengan baik dan laris. Karena keterbatasan perputaran modal membuatnya dalam seminggu sampai dua kali harus bolak balik Cilacap – Tanah Abang.

Setelah hal ini berjalan, umumnya manusia ingin berkembang tumbuh besar, kemudian punya keinginan ingin punya toko sepatu dan baju sendiri, hal tersebut disampaikan ke saudara. Saudara pun mendukung dengan cara meminjamkan sertifikatnya untuk pengajuan pinjaman ke bank. Mulai dari sinilah Ia mulai mengenal hutang perbankan.

Berjalan dengan baik hampir setiap minggu saya belanja ke Jakarta, walaupun sebenarnya sangat tidak direkomendasikan kita merintis sebuah usaha dengan modal hutang. Karena usaha belum jelas namun sudah di bebani dengan angsuran, biaya hidup sehari-hari, biaya operasional, apalagi di tuntut juga untuk berkembang. Beruntung, waktu itu usahanya sangat laris.

Setelah berjalan dengan baik setahun lebih, musaibah pun datang, tokonya kerampokan dan banyak dagangan raib. Hal itu membuatnya cukup oleng.

Karena hal itu juga, Ia harus segera mengembalikan sertifikat saudaranya yang masih ada di bank. Atau toko harus di ambil alih sama saudara karena khawatir dengan pengelolaannya. Karena tidak punya uang untuk mengambil sertifikat, akhirnya toko direlakan untuk di ambil alih.

Setelah itu berbagai macam usaha dijalani dari berbagai MLM, sewa playstation, jualan jam keliling, jualan singkong keju, dan lain-lain.

Ajaibnya, setiap usahanya ‘jatuh’, selalu saja ada orang yang simpati meminjami modal atau merelakan sertifikatnya untuk di agunkan ke bank. Sampai pada suatu titik, usaha hampir semuanya tidak ada yang jalan, macet! Padahal waktu itu belum lama menikah dan sudah punya dua anak .

Mental Kuat Berkat Menjadi Sales Keliling

Hutang banyak, modal sudah tak ada, sementara angsuran harus di bayar. Di balik kebingungan itu di tawari untuk menjadi sales stempel warna/flash. Keliling dari kantor ke kantor, dari sekolah ke sekolah, dari toko ke toko menjajakan dagangannya.

Menjadi sales hasilnya dirasa cukup memuaskan, bisa untung tiga ratus ribu tiap harinya. Lalu memberanikan diri beli mesin stempel agar gerakan lebih leluasa. Bisa berjualan di kota – kota lain.

Selanjutnya mencari order tidak cuma di kota sendiri, tapi pindah ke kota-kota lain. Sebulan di kota A, sebulan di kota B, dan seterusnya. Setiap minggunya bisa dapat uang bersih minimal sampai 5 juta dan uang tersebut harus direlakan hampir semuanya untuk membayar angsuran.

Keliling menjadi sales ,membuat mentalnya sangat tertempa. Ia merasa lebih energik, lebih fresh dan lebih bisa melihat peluang-peluang yang lain.

Ketika keliling sampailah di pertemukan dengan produk – produk terapi kesehatan dari magnet, dari sinilah awal mulai membentuk perusahaan direct selling. Sangat menantang dan penuh dinamika dalam saya mengelola usaha ini, yang tadinya usaha biasa sendiri tiba-tiba punya puluhan karyawan.

Dengan minimnya ilmu bisnis dan leadership dalam menjalankan usaha tersebut, puluhan cabang didirikan di berbagai kota. Dari usaha ini mengantarkannya punya banyak hutang baik di perbankan, belasan kartu kredit dan ke banyak orang.

“Apalagi waktu itu saya lagi semangat mengamalkan ilmu bisnis yang baru saya pelajari yaitu hutang adalah mulia, semakin banyak hutang semakin keren…hahaha ( yang alumninya tentu tahu)” kekehnya.

Lalu Kembali Bangkrut

Ia pun bertanya dalam hati, instrokpeksi diri. Kenapa sudah semangat dan kerja keras dalam menjalani usaha, tapi kenapa malah mengalami hal ini?

Pertanyaan inilah yang alhamdulillah kemudian menghantarkannya mengenal tentang ngerinya dosa riba, lewat sebuah komunitas yang bernama KPMI ( Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia) dan di mantapkan dengan buku 9 pertanyaan fundamental karya Bapak Heppy Trenggono S. Kom presiden IIBF (Indonesian Islamic Bussines Forum).

Sadar Akan Dosa Riba

Kesadaran pun muncul, bahwa justru kebangkrutan itu adalah bentuk kasih sayang Allah untuknya agar mengerti dan terhindar dari ngerinya dosa riba.

Dari semenjak itu kemudian berkomitmen untuk menghindari RIBA. Bersama direktur yang kebetulan adik kandungnya, menata kembali perusahaan, mempetakan semua hutang dan aset.

Aset yang ada harus di jual untuk membayar hutang-hutang yang urgent. Sampai harus merelakan menjual mobil dan memakai motor butut bekas inventaris karyawan yang tidak terpakai. Sebuah konsekuensi yang harus dijalani.

Lambat laun perusahaan mulai membaik, yang tadinya selalu besar pasak daripada tiang sudah mulai impas bahkan ada keuntungan walau masih tipis.

Ujian Belum Berakhir…

Komitmen, terhadap riba di uji kembali, Ia dihadapkan pada kondisi harus memilih perusahaan hancur atau mau memakai riba

Waktu itu bulan ramadhan di mana harus mengeluarkan gaji , bonus lebaran dan uang tabungan karyawan. Cashflow belum terlalu baik, uang tersebut dipakai sehingga kami dapat mengeluarkan kewajiban kepada karyawan.

Sebelum mengenal Riba menghadapi hal-hal seperti ini tentu bagi kami cukup mudah tinggal pinjam bank atau pinjam orang kasih tawaran riba. Namun bagi yang sudah berkomitmen untuk menghindari RIBA tentu bukanlah hal yang mudah apalagi kami sudah sangat terbiasa mengambil solusi riba.

Taqwa…Tawakal… Keajaiban Pun Datang

Diambilnya keputusan untuk ridho, apapun yang terjadi, ikhlaskan. Ridho jika perusahaan hancur, karyawan demo bahkan masuk penjarapun tak masalah baginya asal kita tidak lagi pakai riba.
Ketika saya ridho disini saya benar-benar merasakan pengalaman spiritual yang paling nikmat yang belum pernah dirasakannya.

Tapi sebagai manusia biasa saja juga perlu ikhtiar, namun tak terlalu berharap harus berhasil.

Berceritalah terhadap tiga temannya yang dianggap punya kemampuan dan kepedulian. Dua temannya hanya mendengarkan dan bersimpati tapi menolak memberi bantuan. Sementara yang satunya memberikan harapan bahwa ia punya tagihan ke klien yang sudah janji mau bayar, kalau nanti uang itu sudah ada bisa di pakai dulu.

Hal itu cukup memberikan harapan padanya. Waktu terus berjalan tapi tidak juga kunjung ada kabar. Sampai temannya mengabarkan bahwa kliennya menunda pembayarannya setelah lebaran. Hmm..

Karena di sepuluh hari terakhir ramadhan beberapa tahun ini Ia mempunyai kebiasaan itikaf full dimasjid. Dan hari itu sudah tiba waktunya untuk segera berangkat dan pasrah pada skenario Allah.

Menjalani itikaf di masjid begitu menikmati, begitu khusyu dan tenang,. Dalam hati ada sebuah keyakinan bahwa Allah sedang mempersiapkannya untuk menjadi orang yang hebat sehingga saya di haruskan mengalami hal itu.

Keyakinannya ini karena terinspirasi kisah Nabi Ibrahim AS yang harus mengorbankan sesuatu yang sangat di cintainya yaitu Nabi Ismail AS. Juga banyak membaca kisah orang-orang yang segera melejit dari keterpurukannya karena mereka mau ridho dengan segala keputusan Allah walaupun itu adalah yang hal terpahit bagi dirinya.

“Saya merasa ini hanyalah ujian, kalau kita ridho inshaallah pertolongan Allah justru akan segera datang. Tapi ketika kita memaksa Allah untuk mengikuti keinginan kita, harus kaya, harus sukses, harus segera selesai masalah nya justru disitu kita akan makin di siksa oleh pengharapan – pengharapan oleh keinginan -keinginan kita”.

Sekitar tiga hari menjalani itikaf kemudian, di telpon sama ibunya yang menyarankan untuk segera ambil bank agar kewajiban terhadap karyawan segera terselesaikan dan perusahaan tidak hancur.

Dengan santun dikasihnya pengertian ke ibu tentang besarnya dosa riba, apakah ibu rela mendengar anaknya memperkosa orang? Padahal seringan – ringannya pintu dosa riba seperti berzina dengan ibu kandungnya sendiri . Mendengar keyakinan dan tekadnya yang begitu kuat akhirnya ibu luluh dan hanya bisa mendoakan semoga terselesaikan bisa berjalan dengan baik.

Akhirnya betul juga tinggal beberapa hari menjelang idul fitri Ia di kabari oleh direkturnya bahwa alhamdulillah semua urusan tanggungan sudah selesai.

Gimana ceritanya? Rupanya direkturnya menjual apa saja yang masih bisa di jual, motornya, motor direkturnya dan pinjam ke beberapa saudara untuk memenuhi kewajibannya.

“Alhamdulillah kami bisa melewati beban bulan ini walau kami harus merasakan lebaran di tahun 2014 dengan kondisi paling miskin saat itu karena sekedar motor saja tidak punya”. Bangganya merasa lega.

Setelah lebaran hampir semua karyawan keluar, yang biasanya jumlahnya puluhan sekarang tinggal tiga orang, direktur , seorang supervisor dan satu orang sales. Dengan tiga orang ini dirintis kembali perusahaan dan dirasakan mencari rezeki begitu lancar dan lebih mudah datang. Waktu demi waktu karyawan pun terus bertambah banyak, perusahaan makin tertata, profitnya semakin meningkat.

Sibuk Di Kegiatan Sosial, Bisnis Terus Meningkat

Perusahaan dipasrahkan semua kepada adiknya. Ia kemudian menyibukkan diri di kegiatan sosial bernama GSC (Gerak Sedekah Cilacap) dan juga berlanjut di gerakan dakwah pemberdayaan umat bernama PBI (Pesantren Bisnis Indonesia).

Kini sering menjadi pembicara dan mentor di acara-acara dakwah dan pelatihan bisnis di berbagai daerah di Indonesia.

Semakin sibuk di sosial, alhamdulillah perusahaan semakin meningkat sehingga dari profit perusahaan bisa ekspansi ke bisnis lain yaitu barbershop dan restoran. Pengelolaan diserahkan sepenuhnya kepada management agar Ia punya banyak waktu untuk beribadah.

Sangat menikmati berkegiatan sosial yang di GSC. Masuk-masuk kampung, survey target ,antar amanah kepada para duafa. Namun di balik kenikmatan tersebut juga timbul keprihatinan dimana Ia melihat pejuang-pejuang sedekah member GSC yang sebagian besar adalah para TKI yang ada di luar negeri, dengan keterbatasan nya mereka berjuang berdonasi kepada yayasan GSC.

“Kami memperhatikan mereka, ingin berkontribusi buat para pahlawan dhuafa ini” selanjutnya, ketika sebagian pulang ke dalam negeri diajari mereka berbisnis, didampingi dengan tujuan agar mereka tidak terus-terusan merantau meninggalkan keluarga tapi bagaimana agar tetap punya penghasilan.

Namun menurutnya, mengajarkan entrepreneurship kepada banyak orang yang tadinya TKI tidak begitu mudah, karena pengusaha adalah berkait dengan keahlian yang perlu proses waktu cukup panjang melatihnya.

Usaha Bersama, Modal Patungan, Solusi Cerdas Dan Bijak!

“Kemudian terfikirkan tentang usaha bersama, bagaimana mereka menjadi investor sementara kami yang mengelolanya agar ketika mereka pulang nantinya mereka punya sumber penghasilan”. Sebuah pemikiran yang luhur!

Restoran adalah usaha yang dipilih untuk mewujudkan usaha bersama. Hampir dua tahun waktunya untuk mengumpulkan modal. Dengan 40 (empat puluh) orang yang ikut berinvestasi dalam patungan usaha bersama ini , yang diberi nama KANGKUNG BAKAR.

Dirasakannya keberkahan jamaah bisnis berjalan dengan baik dan lancar. Kemudian membuka usaha bersama yang kedua dengan investasi dua kali lipat lebih dengan 71 investor yang buka di salah satu mall di Jogjakarta, namun pengumpulan dananya makin cepat, hanya butuh waktu satu bulan.

Setelah yang kedua sukses kemudian bikin lagi usaha bersama yang ketiga, masih restoran dengan merk yang sama buka di sebuah di mall di Tegal. Untuk mengumpulkan modal hanya butuh waktu dua hari, bahkan harus menolak beberapa orang yang ingin berinvestasi karena kuota sudah penuh.

Seiring kepercayaan umat, saat ini kecepatan modal dengan kecepatan pendirian usaha bersama lebih cepat modalnya. Sehingga harus membuat bisni -bisnis baru yang prospektif lainnya.

Ayah dari Aurel, Aura, Aufa dan Auliya itu menjelaskan bahwa awalnya gerakan tersebut adalah sekedar program pemberdayaan buat para TKI.

“Namun kami justru merasakan potensi yang sangat besar pada gerakan ini. Berapapun modal yang dibutuhkan bisa terpenuhi, tidak sekedar angka ratusan juta tapi bisa milyaran bahkan trilyunan melebihi potensi pinjaman bank. Kita bisa membuat bisnis-bisnis berskala besar dengan gerakan ini asal mampu mengelolanya”.

Ia semakin meyakini bahwa itulah skenario Allah, jawaban bahwa ketika berani meninggalkan sesuatu karena Allah inshaa Allah akan di ganti dengan yang jauh lebih baik.

“Ketika saya berani komitmen meninggal kan riba di ganti oleh Allah dengan gerakan ini yang punya potensi sangat jauh lebih baik dan lebih dahsyat” tandasnya penuh semangat dan optimisme.

Gerakan pemberdayaan tersebut awalnya diberi nama SYIRKAH GSC yang kemudian karena semakin beragamnya peminat diganti menjadi SYIRKAH UMMAT .

SYIRKAH UMMAT dapat menjadi solusi buat orang-orang yang ingin berbisnis tapi tidak punya skill bisnis, agar punya penghasilan. Dan juga bisa sebagai solusi pengusaha mendapatkan modal yang besar tanpa riba. Bisa sebagai solusi mewujudkan ekonomi jamaah, ekonomi syariah.

Inshaa Allah gerakan itu akan juga disyiarkan ke seluruh kota-kota di Indonesia dalam bentuk seminar agar dapat menjadi amal jariyah dan menjadi program pemberdayaan yang efektif untuk kebangkitan dan kejayaan umat. Dan mendirikan koperasi syirkah dengan 1 juta anggota.

Selain itu juga dalam bentuk bukunya “The Power Of Syirkah” yang berisi tentang syirkah yang akan segera terbit. Coming soon…!

Syirkahpreneur Dan Makna Kesuksesan

Brand yang melekat padanya kini adalah Syirkahpreneur. Seorang pengusaha yang berkomitmen untuk menghindari harta haram termasuk riba dengan solusi mengoptimalkan potensi umat dengan gerakan usaha berjamaah.

Kesuksesan bagi suami Echa itu adalah tentang kebermanfaatan. Sebesar apa manfaat kita, sebesar itulah nilai sebuah kesuksesan.

Menurutnya, kesuksesan ada polanya, ada rumusnya yang bisa di duplikasikan dan bisa di rencanakan, itulah kesuksesan by design.

Ada pula kesuksesan by accident adalah sebuah kesuksesan yang terjadi hanya akibat kebetulan saja sehingga dia tidak bisa mempolakan dan susah untuk disuplikasi.

Oleh sebab itu, pentingnya ilmu yang harus dikuasai agar menjadi pribadi yang sukses.

“Carilah guru atau mentor untuk mengurangi resiko kegagalan dan mempercepat pencapaian kesuksesan anda” pesannya kepada para pengusaha start up.

Coach Bams merupakan pendiri Aurera Indonesia, Kangkung Bakar, Klimis Barbershop, Syirkah Ummat, ketua KPMI (Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia) Cilacap, penasehat GSC. Bisa dihubungi melalui whatsapp di 0818-0280-3383 dan facebook “Bambang Setyawan (bams abu aurera)”.

Semoga sukses selalu Coach, terus mewarnai negeri dan terus menebar inspirasi!

Comments

comments

Load More Related Articles
Load More By Majalah Sukses
Load More In SUCCESS STORY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Mengenal Lebih Dekat Jati Belanda Cilacap, Perpaduan Antara Cinta dan Konsep Yang Matang

Tweet Tweet Comments comments …